Selama di dunia militer, Tatang Koswara mendapat sorotan dari atasannya. Pengalamannya berada di kampung membikin pelajaran militer menjadi faktor yang tidak susah baginya.
Pada tahun 1974 sampai 1975, Tatang Koswara bersama tujuh rekannya terpilih masuk program mobile training teams (MTT) yang dipimpin oleh Kapten Conway dari Green Berets Amerika Serikat,
“Tahun itu, Indonesia belum mempunyai antiteror serta sniper. Muncullah ide dari perwira TNI untuk melatih jagoan tembak dari empat kesatuan, yakni Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), serta Brimob (Polri). Tetapi, sebagai langkah awal, akhirnya hanya diikuti TNI AD,” imbuhnya.
Dalam praktiknya, Kopassus pun kesusahan memenuhi kuota yang ada. Seusai seleksi fisik serta performa, dari keperluan 60 orang, Kopassus hanya sanggup memenuhi 50 kursi.
Untuk memenuhi kekosongan 10 kursi, Tatang serta tujuh kawannya dilibatkan menjadi peserta. Tatang serta 59 anak buah TNI AD dilatih Kapten Conway kurang lebih dua tahun. Mereka dilatih menembak jitu pada jarak 300, 600, serta 900 meter. Selain itu, mereka juga dilatih bertempur melawan penyusup, sniper, kamuflase, melacak jejak, serta menghapusnya.
Dari dua tahun masa pelatihan, hanya 17 dari 60 orang yang lulus serta mendapat senjata Winchester model 70.
Semacam dikutip majalah Antariksa serta Shooting Times, Winchester 70 yang disebut “Bolt-action Rifle of the Century” ini juga dipakai penembak jitu dari Marinir Amerika Serikat yang begitu melegenda pada saat perang vietnam, Carlos Hathcock. Senjata ini mempunyai keseksamaan target sampai 900 meter.
Rupanya senjata serta ilmu yang diperoleh dari pasukan elite Amerika Serikat ini menolong Tatang dalam pertempuran. Sebab, seusai itu, Tatang ditarik Kolonel Edi Sudrajat, Komandan Pusat Pendidikan Infanteri Cimahi,untuk jadi pengawal pribadi dan penembak jitu di medan perang yang berlangsung di Timor Timur yang terjadi pada tahun 1977 hingga 1978.
Ada dua tugas rahasia yang disematkan pada dua sniper saat itu (Tatang serta Ginting). Pertama, membekuk empat kekuatan lawan, yaitu penembak jitu, pemimpin pasukan, informan, serta anak buah pembawa senapan otomatis. Kedua, menjadi mata-mata. dengan tugas menusuk ke jantung pertahanan, menonton kondisi medan, serta mengabarkannya ke atasan yang menyusun taktik perang. Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Faktor ini berfungsi untuk mengurangi jatuhnya korban.
“Lawan kami itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya performa gerilya yang canggih, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban,” ujarnya.
Pada suatu ketika, Tatang ditugaskan masuk ke pusat pertahanan musuh. Tanpa disadari, Tatang sudah di kepung. tidak kurang dari 30 orang pasukan musuh bersenjata di sekelilingnya. Tatang terperangkap dan hanya bisa terdiam. Dalam pikirnya hanya ada satu kata, mati. Tetapi, sebelum mati, ia wajib membunuh komandannya terlebih dahulu.
“Posisi komandannya telah saya kunci . Tapi, saya juga ingin selamat, makanya saya menantikan saat yang cocok. komandan itu berangkat ke bawah serta saya tembak kepalanya,” tuturnya.
Tetapi, nyatanya, di bawah jumlah pasukan tidak kalah sedikit. Tatang dihujani peluru serta terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya terkena pohon.
“Darah mengalir deras sampai telah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak sebab itu bakal memicu lawan menembakkan senjatanya,” ucapnya.
Tatang baru dapat berangkat malam hari. Ia mencoba mengikatk bambu tali di kakinya. Dengan bantuan gunting kuku, dirinya mencongkel dua peluru yang bersarang di betisnya. Tetapi, darah tidak kunjung berhenti. Tatang pun melepas kain merah putih yang di gunakan untuk menyimpan gambar keluarga. Sambil berdoa, dirinya mengikatkan kain tersebut di kakinya.
“Saya mempunyai prinsip, nasib mati bersama keluarga, minimal gambar keluarga. Saya pun berdoa diberi keselamatan supaya dapat menonton anak keempat saya yang tetap dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Nyatanya, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya,” ungkapnya.
Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang berkata, pelurunya telah melumpuhkan 80 prajurit. Bahkan, dalam aksi pertamanya, 49 peluru sukses menghujam musuh dari 50 peluru.
Satu peluru disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang penembak jitu yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam kondisi terdesak, dirinya bakal membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut.
Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satu sniper paling baik dunia. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 serta Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang mendapatkan rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.
Sponsored
Pada tahun 1974 sampai 1975, Tatang Koswara bersama tujuh rekannya terpilih masuk program mobile training teams (MTT) yang dipimpin oleh Kapten Conway dari Green Berets Amerika Serikat,
“Tahun itu, Indonesia belum mempunyai antiteror serta sniper. Muncullah ide dari perwira TNI untuk melatih jagoan tembak dari empat kesatuan, yakni Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), serta Brimob (Polri). Tetapi, sebagai langkah awal, akhirnya hanya diikuti TNI AD,” imbuhnya.
Dalam praktiknya, Kopassus pun kesusahan memenuhi kuota yang ada. Seusai seleksi fisik serta performa, dari keperluan 60 orang, Kopassus hanya sanggup memenuhi 50 kursi.
Untuk memenuhi kekosongan 10 kursi, Tatang serta tujuh kawannya dilibatkan menjadi peserta. Tatang serta 59 anak buah TNI AD dilatih Kapten Conway kurang lebih dua tahun. Mereka dilatih menembak jitu pada jarak 300, 600, serta 900 meter. Selain itu, mereka juga dilatih bertempur melawan penyusup, sniper, kamuflase, melacak jejak, serta menghapusnya.
Dari dua tahun masa pelatihan, hanya 17 dari 60 orang yang lulus serta mendapat senjata Winchester model 70.
Semacam dikutip majalah Antariksa serta Shooting Times, Winchester 70 yang disebut “Bolt-action Rifle of the Century” ini juga dipakai penembak jitu dari Marinir Amerika Serikat yang begitu melegenda pada saat perang vietnam, Carlos Hathcock. Senjata ini mempunyai keseksamaan target sampai 900 meter.
Rupanya senjata serta ilmu yang diperoleh dari pasukan elite Amerika Serikat ini menolong Tatang dalam pertempuran. Sebab, seusai itu, Tatang ditarik Kolonel Edi Sudrajat, Komandan Pusat Pendidikan Infanteri Cimahi,untuk jadi pengawal pribadi dan penembak jitu di medan perang yang berlangsung di Timor Timur yang terjadi pada tahun 1977 hingga 1978.
Ada dua tugas rahasia yang disematkan pada dua sniper saat itu (Tatang serta Ginting). Pertama, membekuk empat kekuatan lawan, yaitu penembak jitu, pemimpin pasukan, informan, serta anak buah pembawa senapan otomatis. Kedua, menjadi mata-mata. dengan tugas menusuk ke jantung pertahanan, menonton kondisi medan, serta mengabarkannya ke atasan yang menyusun taktik perang. Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Faktor ini berfungsi untuk mengurangi jatuhnya korban.
“Lawan kami itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya performa gerilya yang canggih, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban,” ujarnya.
Pada suatu ketika, Tatang ditugaskan masuk ke pusat pertahanan musuh. Tanpa disadari, Tatang sudah di kepung. tidak kurang dari 30 orang pasukan musuh bersenjata di sekelilingnya. Tatang terperangkap dan hanya bisa terdiam. Dalam pikirnya hanya ada satu kata, mati. Tetapi, sebelum mati, ia wajib membunuh komandannya terlebih dahulu.
“Posisi komandannya telah saya kunci . Tapi, saya juga ingin selamat, makanya saya menantikan saat yang cocok. komandan itu berangkat ke bawah serta saya tembak kepalanya,” tuturnya.
Tetapi, nyatanya, di bawah jumlah pasukan tidak kalah sedikit. Tatang dihujani peluru serta terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya terkena pohon.
“Darah mengalir deras sampai telah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak sebab itu bakal memicu lawan menembakkan senjatanya,” ucapnya.
Tatang baru dapat berangkat malam hari. Ia mencoba mengikatk bambu tali di kakinya. Dengan bantuan gunting kuku, dirinya mencongkel dua peluru yang bersarang di betisnya. Tetapi, darah tidak kunjung berhenti. Tatang pun melepas kain merah putih yang di gunakan untuk menyimpan gambar keluarga. Sambil berdoa, dirinya mengikatkan kain tersebut di kakinya.
“Saya mempunyai prinsip, nasib mati bersama keluarga, minimal gambar keluarga. Saya pun berdoa diberi keselamatan supaya dapat menonton anak keempat saya yang tetap dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Nyatanya, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya,” ungkapnya.
Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang berkata, pelurunya telah melumpuhkan 80 prajurit. Bahkan, dalam aksi pertamanya, 49 peluru sukses menghujam musuh dari 50 peluru.
Satu peluru disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang penembak jitu yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam kondisi terdesak, dirinya bakal membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut.
Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satu sniper paling baik dunia. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 serta Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang mendapatkan rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.